Sunday, January 7, 2007

KILAS BALIK SANG PROFESIONAL

Keputusannya untuk hijrah ke Jakarta telah mengubah nasibnya dari pemilik toko kelontong kecil di pedesaan Malang menjadi professional hebat di bidang air minum dalam kemasan. Bagaimana kilas balik Willy Sidharta sesungguhnya?


Suatu hari seorang pemuda ditabrak sepeda. Dengan cekatan ia menangkap dan membawa penabraknya ke kantor polisi. Ternyata sepeda itu curian. Pemuda itu tidak lain dan tidak bukan adalah Willy Sidharta.

Ketika itu Willy sedang dalam perjalanan ke sebuah acara sosial di sebuah kelenteng di Pasuruan Jawa Timur. Kebetulan sepeda itu dicuri dari sana. Jadi dalam peristiwa itu kebenaran sekaligus ditegakkan.

Pada kesempatan lain, beberapa tahun kemudian, di Jakarta, Willy ditodong orang di Jalan Thamrin Jakarta. Willy tidak kehilangan serupiah pun, malahan ia berhasil merebut pisau dari penodongnya. Oleh karena itu, jangan coba-coba berbuat jahat kepada Willy Sidharta yang bertubuh ramping dan selalu tampak sederhana itu.

Sejak kecil Willy Sidharta sudah memiliki sifat penolong, rajin, teliti serta penuh dedikasi. Suatu ketika ia bertamasya ke sebuah pemandian. Tiba-tiba tampak seorang anak kecil hanyut di gorong-gorong air. Dengan sigap ia melompat dan menyelamatkan anak tersebut. Rupanya ada seorang anak dari rombongan anak cacat yang terjerumus ke air tanpa ada yang tahu. Untungnya, anak itu masih dapat diselamatkan.
Willy Sidharta lahir di Desa Tumpang, sekitar 25 kilometer sebelah Timur kota Malang, Jawa Timur pada tanggal 10 November 1946. Ia yang memiliki nama asli Ang Hwie Liang merupakan sulung dari 14 bersaudara. Ayah ibunya bernama Ang Thian Poo dan Phoa Giok Kiauw. Sejak lahir ia memang sudah biasa digembleng untuk menghadapi kondisi yang serba sulit.

Pada waktu itu sedang ramai ramainya revolusi, sehingga keluarga orang tuanya harus mengungsi ke dusun yang lebih jauh yaitu Desa Ngadireso. Masa tersebut adalah masa sulit sehingga untuk susu pun sangat sulit diperoleh, dan harus berjalan kaki sejauh lebih dari 30 km ke kota Malang untuk membelinya. Maka ketika si kecil menangis atau lapar, terpaksa diberi nasi lembek yang dibentuk dengan tangan menjadi kepalan sebagai ganti dot susu.

Setelah revolusi mereda, Willy kecil diboyong neneknya ke Malang. Maklumlah, ia merupakan cucu pertama yang paling disayangi. Kelak kemudian hari pamannya __________ yang terkenal amat keras dan disiplin ikut menggembleng dirinya. Demikian keras cara mendidiknya sampai cara berjalanpun perlu diatur oleh sang paman. Kalau kaki agak bergerak menutup saja, Willy segera dipukul dengan gagang kemoceng (ujung bulu kucing pembersih yang biasanya terbuat dari rotan). Tidur siang pun harus tertib dan sudah ditentukan waktunya.

Di masa kecil Willy gemar membaca buku, terutama komik. Ia seringkali membolos tidur. Artinya, ia tetap di kamar dan di tempat tidur tapi di bawah bantalnya pasti ada komik.

Kalau mendengar suara maka Willy akan segera menyembunyikan buku di bawah bantal dan pura-pura tidur. Pada awalnya ia sering ketahuan kalau pura-pura tidur. Apa pasal? Ternyata nafas orang tidur pulas dan berpura-pura tidur itu berbeda. Kalau tidur sungguhan nafas lebih teratur. Setelah mempelajari napas orang tidur dengan cara memperhatikan orang tidur, Willy dapat menirukannya dengan sempurna sehingga jarang ketahuan.

Pamannya juga seorang yang sangat mandiri. Pada waktu itu, sang paman memiliki beberapa mobil yang dioperasikan sebagai angkutan umum yang lazim disebut opelet. Selain itu, sang paman juga membuka bengkel untuk kalangan terbatas. Pelanggannya orang-orang tertentu saja yang sangat peduli terhadap kondisi mobilnya.

Karena pada waktu itu suku cadang kendaraan susah diperoleh. Seringkali suku cadang harus dibuat sendiri. Setelah beranjak dewasa, Willy sering membantu pamannya di bengkel. Begitu pulang sekolah, Willy langsung berganti pakaian bengkel dan ia sudah berada di bawah badan mobil untuk mengutak-atik mesin atau bagian lainnya.

Setiap subuh sekitar pukul empat pagi , Willy pasti sudah berada di garasi untuk memeriksa opelet yang akan dioperasikan para sopir pukul 5 pagi. Ia dengan cermat memeriksa tekanan ban, olie, air karburator serta air aki. Semua dicek dan ditambahkan bila perlu.

Dari sinilah sifat mandiri dan perfeksionis muncul dan terbawa sampai sekarang. Ayahnya berasal dari keluarga pedagang kaya hasil bumi. Namun, karena tidak memperoleh restu untuk menikah dengan ibunya, sang ayah memilih keluar dari keluarga dan memulai usaha sendiri dari nol.

Mula-mula dengan menggelar tikar di pasar, berdagang kain sarung dan barang tekstil lainnya. Usahanya berkembang terus sampai memiliki toko sendiri yang akhirnya menjadi toko kelontong terbesar di desa itu .Selain itu, sang ayah juga mempunyai perusahaan susu dengan memelihara sekitar 40 ekor sapi perah.

Ibunya juga seorang pekerja keras yang ulet. Setiap pagi pukul satu dini hari ia sudah bangun untuk mengawasi pemerahan sapi dan langsung mengemasnya untuk dikirim ke Malang.

Masa Sekolah

Sekolah dari TK sampai SMA semua dijalani Willy Sidharta di kota Malang. Prestasi Willy tergolong biasa-biasa saja tetapi di setiap jenjang sekolah ia selalu mempunyai teman karib yang akrab.

Meskipun tergolong pendiam, Willy bisa menjadi sangat sensitif dan emosional bila sudah tersinggung. Tidak mengherankan bila ia seringkali berkelahi dengan teman atau anak lain yang kadang-kadang mengejeknya sampai melampaui batas kesabarannya.

Karena sejak SMP dan SMA, Willy bersekolah di sekolahan khusus laki-laki, maka kesempatan untuk berpacaran tidak banyak. Meskipun ada banyak teman wanita dari pergaulan dengan kelompok teman-temannya.

Meskipun Willy mengikuti kegiatan kepanduan (yang lazim disebut Pramuka sekarang), ia tidak terlalu banyak memiliki kegiatan organisasi. Kegiatan berorganisasi baru mencuat ketika Willy pada tahun 1965 memasuki perguruan tinggi di Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya di kota Pasuruan, Jawa Timur.

Ketika itu, situasi bertepatan dengan peristiwa G30S. Kota Pasuruan termasuk salah satu wilayah yang dianggap sebagai basis PKI sehingga aktivitas untuk menggayang antek PKI sering terjadi di sini. Melihat mayat di bergelimpangan di sungai atau lokasi-lokasi lainnya sudah menjadi pemandangan biasa pada waktu itu.

Aktifitas Willy pada waktu itu sangat luas, mulai dari kegiatan mahasiswa, pemuda, kebudayaan sampai kegiatan di Partai Katholik pun digelutinya. Bahkan, pada suatu saat, Willy merangkap hingga 16 jabatan. Pada waktu itu, kegiatannya berlangsung dari pagi hingga menjelang pagi esok harinya. Itu berarti tidur hanya dilakukan sekitar 4-5 jam saja setiap hari. Bahkan, rekor yang dipegangnya adalah selama 126 jam (hampir selama 5 hari) tidak tidur sama sekali. Beberapa temannya sempat kuatir sehingga kemudian mencampur kopi yang diminum Willy dengan whisky sehingga ia langsung tertidur.

Akibat terlalu banyak kegiatan, Willy akhirnya tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik sehingga harus pindah ke Fakultas Sipil Universitas Atma Jaya di kota Malang pada akhir 1967. Namun, karena kurang cocok akhirnya Willy memutuskan untuk berhenti kuliah akhir 1968.

Keputusan itu tidak pernah disesalinya seumur hidup. Apalagi dua tahun sejak itu Universitas Atma Jaya di Malang ditutup yang disusul pula Fakultas Tehnik Mesin di Pasuruan.

Namun, satu hal yang sangat berpengaruh dalam hidupnya, di kota Pasuruan itulah Willy menemukan pasangan hidupnya yang sangat serasi dan selalu mendukungnya selama 24 tahun. Namanya, Catharina Maria Martha Dewi.

Perkawinan mereka dilangsungkan pada Desember 1968. Keduanya dikaruniai dua orang putri yakni Fransiska Sidharta yang lahir pada tahun 1972 dan Yovita Sidharta yang lahir pada tahun 1976.

Membantu Usaha Keluarga dan Membuka Toko

Setelah berhenti kuliah tahun 1968, Willy kembali ke rumah orang tuanya di Tumpang dan membantu usaha susu yang sangat sederhana. Ia kembali dan mengurusi pengiriman susu ini ke Malang ke para agen yang selanjutnya mendistribusikan langsung ke pelanggan.

Setelah berlangsung selama setahun, Willy memisahkan diri dan mengontrak rumah tak jauh dari rumah orang tuanya sekalipun masih membantu usaha susu orang tuanya. Willy kemudian mulai membuka usaha sendiri berupa sebuah toko kecil yang dimulai dari modal pinjaman, yang akhirnya menjadi cukup besar.

Willy bangun pukul tiga dini hari dan sekitar pulul empat ia sudah berangkat ke Malang menggunakan mobil pikap untuk mengangkut susu. Sekembalinya Willy mengangkut para pedagang yang hendak berdagang ke pasar Tumpang sebab mobilnya termasuk salah satu kendaraan yang paling pagi tiba di pasar. Selain itu, kendaraan pikap membuat para pedagang lebih mudah mengangkut barangnya.

Begitu tiba kembali ke rumah, Willy langsung membuka toko dan sementara dia mandi, toko dijaga oleh isterinya. Siang hari Willy melakukan kegiatan yang sama, mengantar susu batch tengah hari sekitar pukul satu siang.

Melalui kebiasan kerjanya sehari-hari itu, Willy Sidharta menjadi terbiasa tidur selama 4 atau 6 jam saja dalam sehari. Tokonya baru tutup sekitar jam sembilan atau sepuluh malam.

Pulang dari mengantar susu pada siang hari, Willy sering membawa barang dagangan untuk dijual di tokonya yang dibeli dari langganan grosir di Malang. Tokonya pada waktu itu juga menjadi agen roti Bima yang pada masa itu menjadi salah satu roti favorit di Tumpang.

Pada tahun akhir tahun 1972, Willy dan isterinya berkunjung ke Jakarta, antara lain bertemu dengan teman karibnya semasa kuliah di Pasuruan bernama ____________ , yang mengajaknya untuk bergabung bekerja di Nissin Buskuit.

Sekembalinya dari Jakarta Willy berunding dengan isterinya. Mereka akhirnya memutuskan untuk pindah ke Jakarta dengan keyakinan bahwa di Jakarta mereka bisa lebih berkembang. Pada dasarnya Willy sudah sangat bosan dengan apa yang digelutinya saat itu yang dianggapnya statis.

Bulan April 1973, Willy dan keluarga pindah ke Jakarta dan untuk sementara menumpang di rumah mertuanya yakni Bapak ____________ yang saat itu diminta menjaga rumah kosong yang kebetulan milik mertua Tirto Utomo.

Sesampainya di Jakarta, Willy bekerja di Nissin Biskuit sebagai Penyelia (supervisor) di bagian pengemasan.

Baru beberapa minggu bekerja, Willy ditawari untuk membantu Slamet Utomo, ipar dari Tirto Utomo, yang hendak mulai mendirikan bisnis air mineral. Pada waktu istilah air minum dalam kemasan (AMDK) lebih dikenal dengan sebutan air mineral.

Karena Willy lebih senang dengan sesuatu yang menantang, maka ia segera menyambut tawaran tersebut dengan pertimbangan bahwa pekerjaan di Nissin akan lebih monoton dan kurang menantang. Menurut Willy memulai sesuatu yang baru lebih banyak dinamikanya.

Pertimbangan lain, organisasi di Nissin sudah tersusun dengan rapi sehingga akan lebih sulit untuk meraih posisi yang lebih tinggi. Sedangkan di AQUA, sebagai organisasi baru akan lebih mudah karena masih banyak posisi yang kosong. Ini sesuai dengan karakter Willy yang mempunyai ambisi yang tinggi serta semangat yang menyala nyala.

Menurut Willy sebagai manusia yang ingin maju, seseorang harus punya ambisi. Dalam arti positif, ambisi dapat diterjemahkan sebagai dream karena segala sesuatu berawal dari sebuah impian. “Selanjutnya, kita harus berjuang dan bekerja keras untuk bisa mencapai impian tersebut, “ ujarnya dengan penuh rasa percaya diri. ***

1 comment:

riyan said...

saya kagum dgn kisah hidup bapak ini< menjadikan ini suatu inspirasi untuk hidup saya juga, krn sayapun skrn ini sdg merintis usaha spt bapak di awal karir bapak d Aqua.... semoga saya bisa sesukses bapak nantinya, amin...