Friday, December 8, 2006

MEMBANGUN PABRIK BARU DAN BERBURU SUMBER AIR

Reposisi AQUA sebagai air sumber pegunungan amat berpengaruh dalam pendirian pabrik baru dan pencarian sumber air. Selain menggunakan teknologi modern, jasa paranormal pun dimanfaatkan. Bagaimana kisahnya ketika AQUA menerapkan full integrated manufacturing? Bagaimana pula Willy menjadi penemu combi system tanpa hak royalty?


Suatu ketika di tahun 1980, Willy sebagai Kepala pabrik AQUA di Bekasi mendapat panggilan dari Pemda Kabupaten Bekasi yang kebetulan sedang menerima kunjungan Dinas Pertambangan Jawa Barat. Dalam pertemuan yang dihadiri juga wakil-wakil dari pabrik lain yang ada di Kabupaten Bekasi itu disampaikan bahwa intrusi air laut sudah mendekat ke wilayah kabupaten Bekasi.

Penyebabnya akibat semakin banyaknya pengusaha maupun perumahan yang membuat sumur bor dan memompa air tanah secara berlebihan sehingga melebih jumlah kapasitas masukan air dari wilayah resapan di pegunungan.

Willy menyimak laporan itu dengan serius. Ia segera melaporkannya kepada Ridwan Hadikusuma selaku Presiden Direktur PT Golden Mississippi dan Tirto Utomo, selaku pemilik perusahaan.Pada kesempatan itu, ia sekaligus mengusulkan penggantian bahan baku AQUA dari air sumur bor menjadi air sumber pegunungan.

Ada dua alasan utama yang dikemukakan Willy untuk mendukung usulannya itu :

1. Bila benar intrusi air laut akan mencapai pabrik AQUA dalam waktu dekat, maka tamatlah riwayat AQUA, karena pasti akan sulit dan mahal untuk mengolah air yang sudah tercemar air laut.

2. Keadaan ini adalah kesempatan bagi AQUA untuk meningkatkan citra produknya dengan mengubah air baku dari air sumur artesis menjadi air sumber pegunungan yang alami. Di sisi lain akan meningkatkan citra perusahaan sebagai perusahaan yang peduli dengan lingkungan.

Saat itu sudah disadari konsekuensi dari perubahan itu yakni berupa peningkatan biaya. Karena air baku harus diangkut dengan truk tangki dari lokasi sumber ke pabrik. Namun, karena perubahan tersebut sekaligus akan meningkatkan “value” AQUA sekaligus citra perusahaan maka melonjaknya biaya dianggap bukan masalah lagi. Tirto Utomo dan Ridwan setuju bahkan sangat mendukung usulan Willy itu.

Dari Air Sumur Menjadi Air Pegunungan

Sejak saat itu dimulailah perburuan sumber air untuk menggantikan air baku AQUA yang saat itu berasal dari sebuah sumur bor. Sumur itu memiliki kedalaman 120 meter dan harus diproses secara kimiawi terlebih dahulu karena mengandung zat besi dan mangaan berlebihan.

Syarat sumber air yang harus dipenuhi antara lain air sumber harus berkualitas air minum dan langsung bisa digunakan tanpa melalui proses kimiawi lagi. Selain itu, lokasi sumber tidak boleh terlalu jauh dari pabrik Bekasi untuk menghemat ongkos angkut.

Willy memusatkan pencarian sumber air di wilayah Bogor yang dianggap mempunyai citra yang baik sebagai sumber air dan masih terjangkau jaraknya. Berbagai lokasi disurvei termasuk di wilyah Ciomas yang dikenal kaya sumber mata air dan sebagian digunakan untuk memasok air bersih di Jakarta.

Pilihan akhirnya jatuh pada sebuah mata air kecil di Ciawi. Mata air tersebut terletak di pinggir jalan antara Ciawi dan Sukabumi seluas 3.450 meter persegi. Lokasinya itu dipilih untuk memudahkan akses truk tangki yang akan mengangkut air dari sana sekaligus mempertimbangkan kemampuan keuangan perusahaan yang pada waktu itu belum mampu untuk membeli sebidang tanah yang luas.

Di sana kemudian dibangun rumah pelindung sumber mata air serta konstruksi untuk parkir truk tangki karena sumber tersebut terletak di sebuah lembah yang dalam yakni sekitar 20 meter dari permukaan tanah jalanan. Sebuah truk tangki dengan kapasitas 10 meter kubik segera dipesan untuk mengangkut air dari lokasi sumber mata air ke pabrik.

Menurut penuturan Willy Sidharta, pada waktu itu Tirto Utomo sempat mengomel-ngomel karena investasi yang dikeluarkan cukup besar untuk ukuran AQUA pada waktu itu.

Namun, semua kekesalan itu segera terobati setelah penggantian menjadi air sumber pegunungan terwujud. Sambutan konsumen ternyata sangat positif dan mampu meningkatkan pertumbuhan penjualan AQUA dengan lebih pesat. Yang lebih penting lagi, perubahan itu mampu melambungkan citra produk AQUA sebagai air pegunungan yang melekat di benak konsumen hingga saat ini.

Sejak saat itu, setiap kali AQUA akan membangun pabrik baru yang diburunya selalu sumber air pegunungandi Indonesia sebagai basis untuk membuat pabriknya.

Membangun Pabrik di Jawa Timur

Ketika penjualan mulai menjangkau wilayah yang luas mulai timbul masalah distribusi khususnya untuk jenis kemasan ulang alik (returnable bottle) yang harus dikembalikan ke pabrik untuk diisi ulang kembali. Bisa dibayangkan bagaimana sulit dan mahalnya ongkos logistik untuk mengembalikan botol kosong, misalnya, dari wilayah Jawa Timur ke pabrik AQUA yang waktu itu hanya ada di Bekasi.

Oleh karena itu, Tirto Utomo kemudian memutuskan untuk membangun pabrik di Jawa Timur pada 1983 yang merupakan pasar terbesar kedua bagi AQUA.

Tugas untuk melakukan perburuan sumber air serta lokasi pabrik di sana jatuh ke pundak Willy Sidharta. Syarat lokasi pabrik tentu saja tidak boleh terlalu jauh dari Surabaya yang merupakan pasar utama. Pencarian dipusatkan di jalur antara Surabaya dan Malang, khususnya daerah Pandaan yang terkenal dengan Tretes sebagai resor wisata pegunungan. Namun, pilihan Tretes sebagai lokasi pabrik dihindari karena aksesnya cukup sulit bagi truk-truk untuk mengangkut AQUA nantinya.

Memanfaatkan Jasa Paranormal

Setelah beberapa bulan mencari akhirnya Willy menemukan sebidang sawah dengan serumpun pohon pisang di tengahnya. Di bawah pohon-pohon pisang tadi muncul sebuah mata air kecil.

Pada waktu itu, Willy memanfaatkan jasa paranormal untuk memastikan bahwa lokasi tersebut mengandung air bawah tanah yang cukup melimpah untuk keperluan sebuah pabrik. Ia teringat pada saat melakukan pengeboran sumur untuk pabrik AQUA di Bekasi, pihak kontraktor juga menggunakan jasa paranormal untuk menentukan lokasi sumur bor. Maka dihubunginya kembali pihak kontraktor untuk memperoleh alamat sang paranormal ahli sumber air itu. Setelah berhasil dihubungi ternyata paranormal itu bernama Markus.

Willy kemudian mengajak Markus ke Pandaan untuk melihat dan memastikan apakah lokasi di bawah rumpun bambu tadi memiliki banyak air. Tidak hanya itu, Markus juga ikut menentukan lokasi yang tepat untuk melakukan penyadapan ke lapisan air tanah. Berbagai peralatan digunakan seperti batang kuningan, pendulum serta peta dari lokasi tersebut

Hebatnya dengan peralatan sederhana tersebut Markus bisa mengetahui berapa besar debit air yang dimiliki, berapa dalam lapisan air tanah yang bisa diambil serta menera secara kasar kualitas air yang terkandung di sana. Pada waktu itu, Markus memperkirakan sumber air yang besar terletak pada kedalaman 26 meter di bawah permukaan tanah.

Segera pengeboran dimulai pada titik yang telah ditentukan. Proses pengeboran sempat terhenti karena alat bor sempat terjepit di lapisan batuan yang amat keras. Namun, pengeboran akhirnya dapat dilanjutkan dan berhasil menembus lapisan air yang telah ditentukan. Tepat pada kedalaman 26 meter air memancar keluar dari lubang galian yang dibuat.

Sejak saat itu, Markus selalu diminta mendampingi Willy dan timnya untuk berburu mata air untuk AQUA. Mereka pun menjelajahi berbagai tempat di Indonesia, masuk sampai ke pelosok-pelosok untuk mendapatkan air yang cocok untuk AQUA.

Tabel 2. Daftar Pabrik-Pabrik AQUA

NO.
LOKASI
DIBANGUN
KAP AWAL

1
BEKASI
1974
6.0

2
PANDAAN
1984
1.3

3
BALI
1986
5.0

4
BRASTAGI
1989
30.0

5
CITEUREUP-VIT
1989
25.0

6
MANADO
1990
25.0

7
CITEUREUP
1991
120.0

8
LAMPUNG
1992
20.0

9
BABAKAN PARI
1992
40.0

10
WONOSOBO
1992
40.0

11
MEKARSARI
1994
400.0

14
SUBANG
1997
150.0

15
KLATEN
2002
317.0

16
KEBON CANDI
2005
602.0


TOTAL KAPASITAS SAAT INI
7,695.0

Provinsi-provinsi yang telah dijelajahi, antara lain Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sumatra Selatan, Sumatra Barat dan semua provinsi di Jawa dan Bali. Semua mata air yang digunakan AQUA saat ini selalu mendapat sentuhan indra keenam Markus. Yang bersangkutan meninggal dunia pada tahun 2002.

Untuk wilayah Kalimantan, tim geologi AQUA akhirnya menyerah, karena tidak menemukan sumber air yang cocok. Kalau pun terdapat sumber air yang baik, letaknya jauh di pedalaman yang sulit dijangkau transportasi darat. Mana mungkin AQUA mendirikan pabrik di lokasi seperti itu.

Belakangan tim geologi AQUA memadukan antara kepiawaian Markus dengan teknologi geolistrik atau metode SP yang kemudian diikuti dengan pengeboran eksplorasi untuk mengetahui lapisan tanah dan batuan serta kualitas dan kuantitas air, termasuk untuk membuktikan bahwa air akan mengalir sendiri ke permukaan, karena ini merupakan persyaratan utama AQUA.

Survei Geolistrik


Pencarian sumber air AQUA biasanya menggunakan peta hidrogeologi. Dari peta itu tim mencari yang mana yang memungkinkan dan yang mana yang baik. Setelah lokasi ditentukan AQUA mengirimkan tim hidrogeologi untuk melakukan studi.Tujuannya mencari mata air yang ada di sekitar daerah itu. Setelah sumber mata air ditemukan baru ditentukan lokasi yang tepat untuk mendirikan pabrik. Setelah itu di lakukan survei. “Di sini biasanya kita minta ijin ke pemerintah desa setempat atau penduduk yang tanahnya akan dipakai, “ kata Willy.

Dalam proses pencarian itu perlu dibuat kesepakatan terlebih dahulu dengan pihak pemilik tanah agar harga tanah tidak melonjak ketika hasil survei memberikan hasil positif.

Oleh karena itu biasanya AQUA melakukan pengikatan harga terlebih dahulu dalam bentuk gentlement agreement dengan pemerintah setempat seperti kepala desa. Setelah terjadi kesepakatan baru dilakukan studi geolistrik. Bila hasilnya positif maka segera dilakukan pengeboran eksplorasi. “Sama dengan mengebor minyak cuma yang digunakan pipa yang kecil, “ tambahnya.

Setelah air mengucur dengan deras airnya dilakukan negosiasi dengan pemilik tanah untuk melakukan pembelian tanah. Sesudah itu meminta ijin dan dilakukan pengeboran. Baru setelah itu didirikan pabrik. Kedalaman ditentukan per daerah dan berbeda-beda. Sumber air biasanya letaknya di daerah patahan. Seringkali letaknya di lembah seperti yang ada di Sukabumi di mana lokasi mata airnya terletak sekitar 80 sampai 100 meter di bawah permukaan tanah bagian atas atau di lembah. Dulu mungkin terjadi gempa bumi kemudian tanahnya anjlok atau ambles. “Jadi kita mengebornya hanya 40 meter tetapi kalau dihitung dari permukaan tanah yang sebenarnya dalamnya mencapai 140 meter,” Willy menuturkan.

Sebenarnya sumber air hanya merupakan lapisan air yang banyak terdapat di bawah tanah. Yang banyak terjadi mungkin karena bisnis air itu begitu besar maka orang pun tertarik. “Jadi meskipun belum membuat pabrik mereka membeli tanah itu terlebih dahulu,” ujar Wiily.

Tim geologi AQUA yang paling banyak terlibat dalam pencarian sumber air adalah Hendra Kosasih. Maklum di AQUA ia menjabat sebagai Water Resource and Land Manager.

Sumber air yang ditangani Hendra pertama kali adalah sumber air Kubang pada 1992 yang merupakan sumber air bagi pabrik AQUA di Mekarsari dan Babakan Pari, Sukabumi. Kapasitas sumber air Kubang saat ini sekitar 122 liter per detik.

Setelah itu menangani pabrik Lampung di bawah bendera TIV Lampung (dulu namanya PT Tirta Menara Nusa) dengan kapasitas sumber 10 liter per detik. Pabrik tersebut terletak di dalam kota Bandar Lampung. “Ketika saya menawarkan sumber air yang lebih baik dengan jarak 80 km dari Bandar Lampung perusahaan keberatan,” kata Hendra Kosasih.

Sementara itu, rencana pembangunan pabrik AQUA di Kayu Aro, Solok, Sumatera Barat dibatalkan akibat kesalahpahaman dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) setempat karena tidak pernah duduk dalam satu meja. “Padahal bila AQUA mempunyai sumber air di Solok mengirim ke Pekan Baru hanya satu hari saja,” katanya. Alhasil, AQUA hanya memiliki dua pabrik di Sumatera yakni di Brastagi, Sumatera Utara dan Lampung.

Di Sulawesi, AQUA membuka pabrik di Manado, Sulawesi Utara. Sumber airnya bernama Air Madidi. Sesungguhnya, AQUA juga berencana membangun satu pabrik lagi di Makassar. Tetapi pembangunan pabrik terbentur pada peraturan pemerintah daerah yang membatasi pembangunan pabrik pada radius 40-60 km saja dari kota Makassar. Padahal di lereng Gunung Lampau Batang yang terletak sekitar 100 km dari Makassar terdapat mata air yang bagus sekali sebagai bahan baku pabrik AMDK.

Di Jawa Tengah AQUA selain di Wonosobo, AQUA juga memiliki sumber air di Sigedang, Klaten. Tak jauh dari sana terdapat mata air Kapilaler dan Cokro Tulung yang sudah dimanfaatkan sebagai sumber air PDAM setempat. Pabrik AQUA di Klaten itu sempat diramaikan masyarakat setempat karena dianggap mengakibatkan turunnya debit pada sumber air lainnya.

Menurut Hendra Kosasih sifat mata air alam selalu mengalami penurunan. Dulu sewaktu Pabrik Gula Ceper masih beroperasi, perawatan saluran irigasi dibiayai pabrik gula itu. Apabila saluran irigasi bocor maka pabrik yang memperbaiki.Demikian pula bila ada tumbuhan liar langsung dibabat agar air mengalir lancar. Sekarang kondisi saluran irigasi tersebut merana karena dibiarkan tak terawat selama 5 tahun.

Sementara itu, ada sebagian anggota masyarakat yang diam-diam memanfaatkannya untuk perikanan dengan melubangi saluran untuk di alirkan airnya ke kolam mereka. Sayangnya, air yang diambil tidak dikembalikan ke saluran irigasi sehingga kapasitas air makin lama makin menyusut. “Jadi kalau dirunut seharusnya itu merupakan tanggung jawab Departemen Pekerjaan Umum atau pemda setempat bukan tanggung jawab AQUA,” ujar Hendra.

Penelitian secara ilmiah sudah dilakukan lembaga independent dari Undip dan UGM. Sementara, AQUA melakukan Studi Recharge Area dengan menggunakan teknologi isotop agar diketahui dengan pasti umur dan asal daerah tangkapan air.

Lokasi penggalian air dari sumber Sigedang akhirnya terpaksa dialihkan sekitar 150 meter dari lokasi semula karena mengandung banyak pasir sehingga membuat filter cepat aus.”Mengganti filter itu biayanya mahal sekali,” ujar Hendra.

Setelah dianalisa ternyata air dari sumber Sigedang, Kapilaler dan Cokro Tulung memiliki tipe yang sejenis yakni tipe vulkanik dari Gunung Merapi. Beruntung kemudian ditemukan lapisan lava yang memiliki air bagus dan tidak mengandung pasir. Lolasi di titik itu yang kini yang menjadi sumber air utama bagi pabrik AQUA di Klaten.

Menurut Willy Sidharta pemilihan lokasi pabrik AQUA di Klaten sudah didahului studi lingkungan. Terbukti bahwa air yang dipakai untuk irigasi dan keperluan sehari-hari penduduk bukan berasal dari sumber air yang dalam. Sedangkan, sumber air AQUA begitu dipasang pipa air langsung memancar keluar. Itu membuktikan bahwa sumber mata air AQUA bersifat mengalir sendiri (positive atesian) bukan hasil kerja pompa air (negative artesian).

Jadi menurut Willy kejadian di Klaten dipicu oleh kesalahpahaman dan sesudah itu ada pihak-pihak yang berusaha memanfaatkan hal tersebut.

Demi meningkatkan citra perusahaan AQUA kemudian selalu membangun pabrik baru lengkap dengan sumber mata air terlindung yakni seluas 12 hektar sumber, taman dan program penanaman pohon. Lokasi tersebut pada akhirnya dimanfaatkan sebagai obyek ekowisata.

Selain menjadi lokasi sumber air AQUA sebagai obyek wisata, Willy Sidharta dengan penuh keberanian menyelenggarakan program kunjungan ke pabrik kepada masyakat dengan menggunakan bus khusus. Tujuannya antara lain untuk membangun jaringan duta-duta AQUA sebagai network ambassador. Mereka terdiri dari anak-anak sekolah dan ibu-ibu rumah tangga yang memiliki pengaruh yang kuat dalam mengambil keputusan pembelian.

Tingkat kegagalan tinggi

Pada tahun 2004, Hendra melakukan penggalian di Kebon Candi, Pasuruan yang memiliki kapasitas 74 liter per detik. Sumber itu akan menjadi penunjang pabrik AQUA di Pandaan, Jawa Timur. Kapasitas sumber air Pandaan sudah mengalami penurunan dari 46 liter per detik menjadi tinggal 20 liter per detik. Salah satunya sebagai akibat pengembangan kawasan Taman Dayu milik Sampoerna.

Syarat sumber air AQUA adalah air harus mengalir sendiri (flowing) atau bersifat artesian positive. Sementara, sumber artesis yang harus dipompa disebut artesian negative. Tidak mudah mendapatkan sumber air yang bersifat artesian positive.

Biaya eksplorasi untuk mencari sumber air menalir untuk mencari sumber air mengalir sendiri cukup mahal. Biaya penggalian satu titik bisa mencapai Rp 90 juta hingga Rp 100 juta. Biaya itu meliputi biaya pengeboran, biaya sewa alat lengkap dan pengebor batu. Padahal idealnya dibutuhkan penggalian pada 3 titik agar dapat diperoleh gambaran secara tiga dimensi.

Kegagalan memperoleh sumber air dapat mencapai 30 persen. Karena tingkat kegagalannya tinggi maka apabila pada suatu lokasi uji geolistrik mengalami kegagalan maka tidak akan dilanjutkan lagi karena biayanya terlalu tinggi. Pada dasarnya uji geolistrik dilakukan dengan membentangkan kabel yang kemudian dialiri listrik. Pada setiap media yang dilewati maka Ohm Meter akan memonitornya dengan mengeluarkan grafik dan angka tertentu untuk menunjukkan media pasir, tanah lempung atau tanah yang mengandung air. Biaya survei geolistrik sekitar Rp 30 juta.

Sistem Lisensi

Semasa Tirto Utomo masih hidup ia memiliki cara khas untuk mengembangkan usahanya. Ia membangun pabrik Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) di beberapa daerah dengan melibatkan investor daerah tersebut dengan sistem lisensi.

Pabrik-pabrik yang dibangun di daerah itu bukanlah atas nama PT AQUA Golden Mississippi namun berhak menggunakan merek dagang AQUA untuk produk AMDK mineral yang dihasilkannya.

Meskipun pabrik-pabrik di daerah itu resminya bukan milik PT AQUA Golden Mississippi, tetapi pemegang saham mayoritas adalah orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan PT AQUA Golden Mississippi. Misalnya pabrik di Manado yang berproduksi tahun 1991 dimiliki PT Tirta Sulut Klabatindo dengan 55 % saham dimiliki Tirto Utomo selaku pendiri dan presiden komisaris PT AQUA Golden Mississipi. Demikian juga yang di Lampung PT Tirta Menara Nusa, 60% sahamnya dimiliki oleh Tirto Utomo, sisanya dimiliki investor lokal.

Hal itu sengaja dilakukan Tirto Utomo supaya investor lokal terangsang untuk memproduksi AQUA sekaligus untuk menghemat biaya ekpansi usaha karena dana yang dimiliki AQUA juga terbatas.

Pada awal tahun 1990-an biaya untuk membangun sebuah pabrik AMDK ukuran kemasan 5 galon dibutuhkan modal sedikitnya Rp 2,5 miliar. Sedangkan, kemasan yang lain biayanya lebih besar lagi.

Dengan cara itu, Tirto Utomo berhasil membangun delapan pabrik baru selain pabrik lama AQUA di Bekasi yakni di Pandaan, Jawa Timur (PT Jaya Mas Unggul), Mambal , Bali (PT Tirta Dewata Semesta), Manado (PT Tirta Sulut Klabatindo) dan Bandar Lampung (PT Tirta Menara Nusa). Empat pabrik lainnya adalah PT Tirta Babakan di Sukabumi, Jawa Barat yang dirancang khusus untuk memproduksi dalam kemasan botol 5 galon, dengan investasi Rp 2 miliar ; PT Tirta Cisanta di Kuningan, Jawa Barat dengan investasi sekitar Rp 1 miliar ; PT Tirta Sibayakindo di Medan dengan investasi sekitar Rp 3 miliar (selain ukuran botol 5 galon juga memproduksi dalam kemasan botol-botol kecil) dan PT Tirta Mangli di Wonosobo yang menyedot investasi Rp 2,5 miliar.

Tujuan utama pembangunan pabrik-pabrik di daerah itu adalah untuk mengurangi ongkos transportasi. Karena komponen biaya pengangkutan itulah yang menyebabkan perbedaan harga mencolok di berbagai daerah. Sebagai contoh pada tahun 1992 harga AQUA kemasan 5 galon di Medan mencapai Rp 10.000 sementara di Jakarta hanya Rp 4.500. “Kami memiliki ambisi untuk menjadikan harga AQUA sama dari Sabang sampai Merauke,” tegas Willy Sidharta.

Konsep Full Integrated Manufacturing

Demi membangun citra kualitas pada 1994 AQUA mulai membangun pabrik dengan konsep full integrated manufacturing. Konsep ini lebih sempurna dibandingkan konsep integrated production yang dikembangkan selama 1986-1990.

Konsep tersebut pada dasarnya memadukan antara produksi botol plastik kemasan dengan proses pengisian air ke dalam botol, memberinya tutup dan langsung dikemas dalam kotak karton.

Pada 1992, Willy Sidharta masih menggunakan mesin blower buatan Krones dari Jerman untuk memproses perform menjadi botol plastik kemasan. Namun, ketika pada 1993 ia bertemu dengan Tan Soon Hua seorang tenaga penjual dari Singapura yang mewakili perusahaan pembuatan kemasan botol plastik dari SIDEL Perancis pandangannya berubah. Ia melihat mesin-mesin produksi SIDEL memiliki kinerja yang lebih efisien 85 % dibanding mesin yang digunakannya saat itu.

Secara normal pada masa itu untuk membuat botol plastik dan memadukannya dengan proses pengisian botol diperlukan ruangan yang luas. Mula-mula bakal botol plastik yang masih berupa preform masuk ke mesin peniup (blower) sehingga menjadi botol plastik. Sesudah itu botol plastik harus melalui air conveyer untuk dibawa ke bagian pencucian botol (rinse). Setelah botol bersih dan steril baru botol dibawa ke mesin pengisian air (filler) dan mesin pemberi tutup botol (capper). Sesudah itu botol platik dikemas dalam kotak karton untuk siap di pasarkan.

Willy memandang proses produksi semacam itu terlalu panjang dan bertele-tele. Selain membutuhkan ruangan luas proses tersebut membutuhkan banyak tenaga, waktu dan biaya. Selain itu karena mesin berada di udara terbuka maka risiko botol plastik terkontaminasi udara menjadi lebih besar.

Ia kemudian mengusulkan bagaimana bila mesin blower dan mesin filler sekaligus mesin penutup botol (capper) dikombinasikan menjadi satu. Ketiga mesin itu berada di ruangan tertutup betekanan udara tinggi sehingga meminimalkan risiko kontaminasi. Dengan demikian air conveyer dan mesin pencuci botol (rinse) tidak diperlukan lagi.

Gagasan Willy itu diterima baik oleh SIDEL yang kemudian menciptakan mesin pesanan tersebut untuk dipasang di pabrik AQUA Mekar Sari. Hasilnya berupa mesin yang sangat efisien tenaga operator, waktu dan tenaga. Mesin hasil gagasan Willy itu kemudian dinamakan sebagai mesin Combi System dan sekarang sudah menjadi standar industri dunia. Selain SIDEL dari Perancis, KRONES dari Jerman dan SIPA dari Italia juga memproduksi mesin Combi System. Sayang sekali pada waktu itu Willy Sidharta belum terpikir untuk mengajukan hak paten atas gagasannya tersebut. Andaikata hal itu dilakukannya dulu barangkali kini Willy sudah kaya raya berkat hasil royalti patennya.

Sejak tahun 1994 pula AQUA menjadi pelopor bagi industri AMDK di Indonesia dengan menerapkan Full Integrated Manufacturing dengan memadukan proses pembuatan botol plastik sejak dari biji plastik dengan proses pengisian air ke dalam botol, menutupnya kemudian mengemasnya ke dalam kotak karton. Semua pabrik AQUA akhirnya menggunakan konsep itu dalam proses produksinya. Investasi yang dikeluarkan memang cukup besar. Untuk mesin SIDEL dengan kapasitas 10.000 botol per hari diperlukan investasi sebesar US$ 1,8 juta pada tahun 1993. Pada 2006 dengan memperhitungkan faktor inflasi harga sebuah mesin SIDEL dengan kapasitas yang sama mencapai US$ 2,2 juta. ***

5 comments:

Jika saja... said...

Kenapa perbedaan harga Aqua masih sangat jauh, sementara pabrik sudah ada di manado.

Jika saja... said...

1 galon AQUA di jawa 15.000 di makassar mencapai 40.000,

Jika saja... said...

Kenapa perbedaan harga Aqua masih sangat jauh, sementara pabrik sudah ada di manado.

baru banget said...

ARTIKEL YANG BAGUS
Cara Membangun Rumah

supriatno ino said...
This comment has been removed by the author.